Minggu, 27 Mei 2012

Foke Bikin Cerdas Warga Jakarta

INILAH.COM, Jakarta - Dalam tiga tahun terakhir, pencapaian IPM Jakarta terus berada di peringkat pertama se-Indonesia

Jangan terbuai oleh segudang janji, apalagi janji dari para calon Gubernur DKI Jakarta. Selain janji bisa mengatasi kemacetan dan banjir di Ibu kota, di bidang pendidikan, mereka berjanji akan membebaskan uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) hingga SMA. Sektor ini selalu saja jadi dagangan politik. Tujuannya, supaya masyarakat terpikat, lalu memilih sang kandidat .

Tapi, sekali lagi, itu cuma janji. Soal penerapannya, wallahualam. Hanya saja, dari pengalaman yang sudah-sudah, janji itu cuma manis di bibir. Ketika si kandidat terpilih menjadi gubernur, janji-janji itu dilempar ke dalam gudang. Akhirnya, semua hanya omong kosong.

Ketimbang pusing memikirkan janji, ikuti saja apa yang sudah dan akan dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sejak terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2007 lalu, Fauzi Bowo, atau yang akrab disapa Foke, terus meningkatkan anggaran untuk pendidikan. Pada 2007, alokasi dana pendidikan baru mencapai 20,2% dari total APBD, Tahun 2011 lalu, angkanya sudah menjadi Rp8 triliun atau lebih 26% dari APBD sebesar Rp31,7 triliun. Tahun ini dinaikkan lagi menjadi Rp9,78 triliun atau 28,93% dari APBD-P Rp41 triliun. Angka ini di atas ketentuan pemerintah sebesar 20%.

Dana itu semua digunakan untuk berbagai program, termasuk bantuan tunai kepada siswa melalui Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Bantuan Operasional Buku (BOB), dan beasiswa bagi mereka yang rawan putus sekolah dari keluarga tidak mampu. Tahun ini saja, dana sebesar Rp1,15 triliun disalurkan untuk membantu siswa lewat BOP, BOB, dan beasiswa bagi 12.737 siswa dari keluarga kurang mampu dan rawan putus sekolah.

Dana yang digunakan itu tidak sia-sia. Tengok saja akses warga Jakarta di bidang pendidikan. Angka Partisipasi Kasar (APK) anak-anak usia SD kini mencapai 103,86%, SMP sebesar 109,63%, dan SMA/SMK 89,59%. "Ini membuktikan daya serap penduduk usia sekolah di Jakarta sangat tinggi dan bisa menjadi salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan misi Pemprov DKI Jakarta, yaitu pendidikan untuk semua," ujar Foke. Itu artinya, sebagian besar warga Jakarta sudah melek pendidikan.

Tak hanya itu. Hasil akreditasi terhadap sekolah-sekolah negeri di Jakarta juga terus meningkat. Saat ini saja sudah ada 39 sekolah negeri yang berstandar internasional dan 78 sekolah yang telah memenuhi ISO 9001:2000.

Dalam catatan Litbang Kompas, pada jenjang perguruan tinggi, hingga tahun 2011 DKI Jakarta punya sebanyak 656.152 orang yang bergelar strata satu dan 79.156 orang bergelar strata dua dan tiga. Asal tahu saja, makin banyak penduduk berpendidikan tinggi dan memperoleh pendidikan yang berkualitas, semakin terbuka akses untuk mendapat pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.

Dalam pembangunan fisik, dalam lima tahun terakhir Pemprov DKI telah melakukan rehab total sebanyak 147 sekolah, 1.135 rehab berat dan membangun 69 kelas baru untuk SMA dan SMK. Pemprov DKI juga telah membuka 6 sekolah baru, termasuk sekolah unggulan SMA Husni Thamrin.

Semua langkah ini membuat rata-rata nilai ujian nasional (UN) siswa Jakarta terus membaik dan menduduki posisi jauh di atas rata-rata nasional. Pada tahun 2011 lalu, rata-rata nilai UN siswa SD di DKI mencapai 7,07, siswa SLTP 6,93, siswa SMA dan SMK masing-masing 7,85 dan 8,76. Tidak heran, dengan capaian itu, kelulusan siswa SD di DKI mencapai 99,98%, SLTP 99,95%, dan SMA/SMK 99,53%. "Insya Allah, pada pelaksanaan UN 2012, prestasi ini bisa lebih ditingkatkan," kata Foke.

Masih banyak lagi kemajuan di bidang pendidikan di Jakarta selama Foke memimpin. Tapi itu tak membuatnya berpuas diri. Makanya, ia mencanangkan program wajib belajar tak lagi 9 tahun, tetapi sudah dinaikkan menjadi 12 tahun.

Angka-angka itu bukan omong kosong. Lihat saja hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas beberapa waktu lalu. Sebanyak 61,9% warga menyatakan bahwa kinerja Pemprov DKI Jakarta sangat baik dalam mengurus pendidikan.

Pendidikan adalah salah satu sektor yang menjadi dasar penentu dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan menjadi fokus untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Jika kualitas manusianya baik, diharapkan pembangunan perkotaan juga bisa lebih baik dalam mencari solusi permasalahan.

Dalam tiga tahun terakhir, pencapaian IPM Jakarta terus berada di peringkat pertama se-Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, IPM DKI Jakarta terus meningkat dari angka 75,6 pada tahun 2002 meningkat menjadi 77,6 pada tahun 2010. Angka IPM Jakarta pun lebih tinggi dibandingkan indeks ratarata nasional. Tahun 2011 lalu angka IPM DKI Jakarta 78, lebih tinggi dari indeks nasional 72,6.

IPM mencakup tiga dimensi pembangunan manusia, yakni dimensi pendidikan yang diwakili oleh rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf. Kedua, dimensi kesehatan diwakili oleh angka harapan hidup. Ketiga, dimensi kemampuan daya beli yang dilihat dari rata-rata pengeluaran riil per kapita.

Secara umum, tingkat pendidikan masyarakat Jakarta juga lebih tinggi dibandingkan provinsi lain. Rata-rata lama bersekolah penduduk Jakarta hingga tahun 2010 adalah 10,9 tahun, tertinggi dibandingkan daerah lain. Hal ini menunjukkan penduduk Jakarta rata-rata sudah menamatkan sekolah paling tidak hingga sekolah menengah pertama.

Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun di DKI Jakarta rupanya memberi kontribusi cukup signifikan dalam menaikkan persentase angka partisipasi sekolah pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Data sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan, sekitar 90% penduduk DKI Jakarta usia 5 tahun hingga 15 tahun masih aktif bersekolah.

Nah, sekarang Foke sudah mencanangkan progam wajib belajar 12 tahun. [mah]

28 May, 2012


-
Source: http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1865590/foke-bikin-cerdas-warga-jakarta
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar